Thursday, July 27, 2017
   
Text Size

Sejarah Fakultas

FITK Online - Pada awalnya, fakultas keagamaan yang didirikan Departemen Agama RI merupakan pendidikan kedinasan yang diselenggarakan untuk memenuhi kebutuhan pegawai di lingkungan Departemen Agama RI, baik dalam lingkungan birokrasi maupun tenaga-tenaga teknis, sebagai guru di lingkungan madrasah, hakim, panitera, penghulu, juru penerang agama, supervisor pendidikan, peneliti  dan untuk berbagai kepentingan internal lainnya. Pemenuhan kebutuhan tersebut terkait erat dengan terakomodasinya aspirasi umat Islam untuk mendirikan Departemen Agama, yang memperoleh respon positif dari pemerintah RI saat itu. Pada tanggal 3 Januari 1946, secara resmi Departemen Agama RI didirikan, dengan bidang tugas utama melakukan pembinaan kehidupan keagamaan bagi seluruh pemeluk agama di Indonesia dan pembinaan pendidikan madrasah dan pesantren yang secara historis telah memberi kontribusi positif terhadap perkembangan pendidikan nasional, serta peradilan agama untuk melayani berbagai kebutuhan kepastian hukum bagi umat Islam, khususnya dalam wilayah al-ahwal al-syakhshiyah (perkara data/hukum keluarga).


Terkait dengan kebutuhan tersebut, Departemen Agama memerlukan sumber daya manusia dengan berbagai latar belakang keahlian yang sesuai dengan bidang tugas yang diembannya, yakni tenaga guru, pengawas, pengelola adminsitrasi pendidikan yang setiap mereka harus memiliki skil kepemimpinan sebagai persiapan untuk memenuhi kebutuhan. Oleh sebab itu, pada tahun 1950, Departemen Agama mendirikan Sekolah Guru Agama Islam yang kemudian diganti dengan Pendidikan Guru Agama (PGA) dan Sekolah Guru Hakim Agama Islam (SGHI). Pendidikan tenaga teknis tersebut, dikelola oleh Djawatan Pendidikan Agama (Djapenda), semacam direktorat saat ini.

Pada masa Djapenda dipimpin H.M. Arifin Temyang dikembangkan program peningkatan skill guru dan berbagai tenaga teknis keagamaan lainnya melalui pendirian Akademi Dinas Ilmu Agama (ADIA) di Jakarta pada bulan Juni 1957, berdasarkan Surat Keputusan Menteri Agama RI No. 1 tahun 1957. ADIA di Jakarta mengembangkan dua jurusan Syariat Islam dan Sastra Arab; sementara di Yogyakarta Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN) yang sudah berdiri sejak tahun 1951 tetap diteruskan dengan tiga jurusan Tarbiyah, Qadli, dan Dakwah.

Memasuki awal dekade 1960-an, terjadi perubahan besar dalam pendidikan tinggi di lingkungan Departemen Agama, yakni berdirinya al-Jami’ah al-Islamiyah al-Hukumiyah, yang kemudian lebih dikenal dengan Institut Agama Islam Negeri (IAIN), yang dikukuhkan dengan Peraturan Presiden Republik Indonesia No. 11 tahun 1960, tanggal 9 Mei 1960 dan menggabungkan dua institusi PTAIN dengan ADIA, dan berkedudukan di Yogyakarta, dengan empat fakultas, yaitu: Fakultas Ushuluddin dan Fakultas Syariah di Yogyakarta, Fakultas Tarbiyah dan Fakultas Adab di Jakarta.

Sesuai dengan kebutuhan pada saat itu, pimpinan yang mengelola jurusan khusus di Fakultas Tarbiyah (FT) berinisiatif untuk mengembangkan Fakultas Ushuluddin di Jakarta yang berdiri sendiri terpisah dari Yogyakarta. Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 27 tahun 1963 berdiri Fakultas Ushuluddin di Jakarta. Melalui persetujuan Menteri Agama maka terbentuk dua IAIN, yakni IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta dengan Keputusan Menteri Agama RI No. 49 tahun 1963. Dengan demikian, sejak tahun 1963, IAIN Jakarta berdiri sendiri mengelola seluruh programnya sendiri, serta membina tiga Fakultas, yaitu: Fakultas Tarbiyah, Fakultas Adab, dan Fakultas Ushuluddin. Dengan demikian Fakultas Tarbiyah (FT), yang kini berubah menjadi Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK), merupakan salah satu fakultas tertua di lingkungan UIN Jakarta. Fakultas Tarbiyah ini membina tiga jurusan, yaitu: Jurusan Pendidikan Guru Agama, Jurusan Pendidikan Guru Bahasa Arab, dan Jurusan Khusus (Imam Tentara).

Dalam perjalanan selanjutnya FT mengalami dinamika kemajuan melalui pengembangan dan pengurangan berbagai jurusan, seperti jurusan paedagogi dan kemasyarakatan yang kini sudah tidak berkembang lagi. Bahkan jurusan-jurusan tadris matematika, IPA dan IPS yang dikembangkan di awal dekade 1980-an, pada tahun 1986 ditutup untuk menerima mahasiswa baru, akibat banyak lulusannya tidak terangkat sebagai PNS di lingkungan Departemen Agama untuk penugasan guru tadris di MTs dan MA. Masalah lain adalah problema adminsitratif yang terkait dengan kewenangan penetapan gelar akademik lulusannya. Akan tetapi, karena desakan kebutuhan lapangan jurusan-jurusan tersebut dibuka kembali lagi pada dekade 1990-an.

Ketika IAIN Jakarta berubah menjadi Universitas Islam Negeri tanggal 20 Mei 2002 dengan Keppres No. 31 tahun 2002, selain nama fakultas diubah menjadi Fakultas Ilmu Tabiyah dan Keguruan (FITK), jurusan dan program studinya pun telah berkembang menjadi sangat besar, yang meliputi:

  1. Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI)
  2. Jurusan Pendidikan Bahasa Arab (PBA)
  3. Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris (PBI)
  4. Jurusan Kependidikan Islam, dengan 2 program studi, yaitu: Program Studi Manajemen Pendidikan (MP) dan Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI)
  5. Jurusan Pendidikan Matematika (PMAT)
  6. Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam (PIPA), dengan 3 program studi, yaitu: Program Studi Pendidikan Biologi (PBIO), Program Studi Pendidikan Kimia  (PKIM) dan Program Studi Pendidikan Fisika (PFIS)
  7. Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI)
  8. Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (PIPS)

Sejak masa ADIA sampai berlakunya Sistem Kredit Semester (SKS), sistem pendidikan di IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta tidak mengalami perubahan yang berarti. Pendidikan sarjana diselenggarakan selama lima tahun yang terdiri dari dua program, yakni program sarjana muda (Bachaloriat) dan sarjana lengkap (doctoral). Program sarjana muda terbagi tiga, yakni propendus, candidate dan bachalore, yang sistem pendidikannya diselenggarakan dengan sistem tingkat dan kenaikan tingkat. Bila tidak lulus pada satu tingkat, tidak bisa melanjutkan studi pada tingkat berikutnya, dan harus mengulang seluruh mata kuliah di tingkat tersebut sampai lulus semua dan naik tingkat. Usai menempuh tingkat bachalore, seluruh mahasiswa diwajibkan menyusun risalah sebagai persyaratan memperoleh gelar Bachelor of Art (BA). Kemudian bagi  yang telah lulus dan memperoleh gelar BA diperkenankan untuk melanjutkan studi pada program doctoral 1 dan 2 untuk menempuh program sarjana dan memperoleh gelar doctorandus (Drs).

Sejak terjadi restrukturisasi sistem pendidikan tinggi di Indonesia pada tahun 1983-1984, dan diimplementasi di IAIN Jakarta pada tahun 1986, maka FT tidak lagi menyelenggarakan program pendidikan sarjana muda dan sarjana lengkap.  Mulai tahun itu FT hanya mengembangkan program Sarjana Pendidikan Islam melalui sistem sks dengan beban studi antara 145-155 sks.

Dalam kurun waktu 45 tahun sejak ADIA di tahun 1957, FITK telah mengalami beberapa kali perubahan dan penggantian kepemimpinan, yang secara berturut-turut adalah sebagai berikut:

  • Prof. Dr. H. Mahmud Yunus (1957-1960 dan 1960-1963)
  • Prof. Drs. Sunardjo (1963-1965)
  • H.M. Anshor Soeryoadibroto (1965-1970)
  • H.M. Noor Asyik, M.A. (1970-1972)
  • Prof. H.M. Salim Fachri (1972-1974)
  • Drs. H. Agustiar M.A. (1974-1976)
  • Drs. H. Zakaria Hakim (1976-1979)
  • Drs. Muchsin Idham (1979-1984)
  • Prof. Dr. Aminudin Rasyad (1984-1987)
  • Drs. Muchsin Idham (1987-1993)
  • Prof. Dr. Salman Harun (1993-1997)
  • Prof. Dr. Rif’at Syauqi Nawawi, M.A. (1997-2001)
  • Prof. Dr. Salman Harun (2001-2005)
  • Prof. Dr. Dede Rosyada, MA (2005-2013)

Headline

Selamat Atas Terpilihnya Prof. Dr. Dede Rosyada, MA sebagai Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

 

Tips Menarik

Tips Membuat Proposal Penelitian

Oleh Muhbib Abdul Wahab

 

Proposal (usulan) merupakan tahap awal sebuah penelitian. Penelitian yang baik (bermutu) biasanya dimulai dari pembuatan proposal yang baik. Sebagian besar mahasiswa FITK pada semester VII (Gasal) mengikuti perkuliahan seminar proposal skripsi. Berikut ini adalah tips membuat proposal penelitian (terutama untuk praktikum penelitian PPPKT dan penulisan skripsi).

1. Mulailah dengan mengenali masalah yang ada di sekeliling Anda (termasuk di sekolah tempat Anda ber-PPKT) dan menjadi minat kajian Anda. Penelitian harus bertitik tolak dari masalah yang jelas, menarik, kontekstual, dan mendesak dicarikan solusinya melalui penelitian.

2. Masalah itu bersumber dari “kegelisahan” Anda dalam melihat realitas empirik, dan bisa pula berasal dari hasil pembacaan saudara terhadap temuan penelitian orang lain, pengalaman Anda menjadi guru, dan sebagainya. Masalah adalah adanya kesenjangan (ketidaksesuaian) antara teori dan praktik, harapan dan kenyataan, atau yang ideal dan yang faktual. Masalah juga dapat berupa pertanyaan asumtif/kritis/filosofis mengenai suatu wacana atau persoalan yang secara akademik belum terjawab tuntas (oleh para ahlinya).

3. Lanjutkan kegelisahan akademik itu dengan membaca bahan-bahan referensi teoritik, jurnal, hasil-hasil penelitian terkait.

4. Buatlah peta konsep sebagai pijakan membuat kerangka teori. Dalami betul permasalahan teoritis yang berkaitan dengan masalah yang akan diteliti. Misalnya, Anda akan meneliti Efektivitas CTL (Contextual Teaching and Learning), maka Anda harus memahami: apa itu CTL? Mengapa muncul CTL? Bagaimana aplikasinya CTL dalam pembelajaran muhadatsah, apa kelebihan dan kekurangannya? Bagaimana mendesain materi ajar muhadatsah dengan pendekatan CTL? Dst.

5. Sambil membuat peta konsep dan kerangka teori, susunlah sekalian daftar pustaka yang relevan dengan tema atau judul penelitian Anda. Sedapat mungkin, referensi yang Anda jadikan rujukan itu yang terbit 10 tahun terakhir dan dalam 3 bahasa: Arab, Inggris, dan Indonesia (atau bahasa asing lainnya yang Anda kuasai).

6. Kumpulkan bahan pustaka secara memadai melalui berselancar di dunia maya (internet), dan mengunjungi perpustakaan, berkonsultasi dengan dosen penasehat akademik, atau teman sejawat.

7. Telusuri tulisan, artikel, atau hasil penelitian (sebelumnya) yang berkaitan dengan masalah yang akan Anda teliti, dan buatlah sebuah review secara kronologis (menurut urutan waktu/tahun), dan pertegas apa yang menjadi distingsi (pembeda) penelitian Anda dengan yang sebelumnya.

8. Jika sudah merasa cukup memadai Anda melakukan studi kepustakaan, dan sudah mulai ada gambaran yang jelas mengenai masalah apa yang akan Anda jawab melalui penelitian ini, segeralah Anda menulis konsep proposal dengan menuangkan ide-ide yang melatarbelakangi penelitian Anda.

9. Setelah itu, buatlah rumusan masalah yang layak untuk dijawab melalui penelitian. Jangan sekali-kali membuat pertanyaan penelitian yang “bodoh” (Stupid question), misalnya rumusan yang menghendaki jawaban berupa definisi atau penyebutan nama tokoh tertentu. Misalnya: Apa itu muhadatsah? Apa itu fi’il mudhari’? Siapa khalifah keempat dari Khulafa’ Rasyidun? Rumuskanlah masalah (sesuai dengan realitas empirik) yang memang belum terbukti/diketahui jawabannya secara akademik, seperti: “Apa pesan di balik pengulangan redaksi kisah-kisah tentang Nabi Musa dalam al-Qur’an?”, “Bagaimana aplikasi CTL dalam pembelajaran muhadatsah yang dinilai efektif?” “Mengapa pembelajaran PAI dengan metode bermain peranan cenderung lebih efektif dibandingkan dengan metode kisah pada kelas XXX….?”

10. Rumuskan tujuan penelitian sejalan dengan rumusan masalah dan dengan menggunakan kata kerja operasional seperti: menjelaskan, membuktikan, mengungkap, menganalisis, menunjukkan, dan sebagainya.

11. Rumuskan manfaat/signifikansi penelitian dengan “membayangkan” hasil penelitian yang akan Anda peroleh dan yang bisa diberikan kepada pembaca. Manfaat penelitian dapat berupa manfaat teoritis dan praktis-pragmatis. Di antara kata kerja operasional yang dapat digunakan adalah: memberikan kontribusi… memberikan bahan pemikiran, menambah khazanah keilmuan…, meningkatkan…, dan sebagainya.

12. Setelah kerangka teori dan penelitian terdahulu yang relevan dibuat, rumuskanlah metode penelitian yang akan saudara gunakan, meliputi: sumber data, jenis dan pendekatan penelitian, populasi, sampel, dan teknik sampling (jika ada), intrumen/teknik pengumpulan data, teknik pengolahan data, teknik analisis dan interpretasi data, hipotesis penelitian (jika ada), dan keterbatasan penelitian. Ingat, penelitian kepustakaan dan penelitian lapangan (yang sering mewarnai skripsi sebagaian besar mahasiswa UIN) itu BUKAN metode penelitian, melainkan hanyalah bagian dari proses atau tempat penelitian. Jadi, jangan sekali-kali menyatakan: “Metode penelitian ini adalah penelitian kepusatakaan/lapangan”… Metode penelitian merupakan prosedur atau langkah-langkah prosedural yang ditempuh peneliti dari awal hingga akhir (penyusunan laporan) penelitian.

13. Belajarlah menulis proposal dengan bahasa Indonesia (atau bahasa asing) yang baik dan benar, dengan memperhatikan gramatika, diksi, penggunaan ejaan, pungtuasi (tanda baca), dan teknik penulisan yang standar (penggunaan kertas, ukuran huruf, jarak spasi, margin atas/bawah, kanan/kiri, dan sebagainya). Sempatkanlah membaca ulang dan mengedit apa yang telah Anda tulis, sehingga dimungkinkan adanya revisi dan penyempurnaan seperlunya.

Jangan lupa, semuanya harus diniati sebagai ibadah, belajar menemukan kebenaran, meningkatkan kapasitas intelektual, dan belajar melatih kesabaran untuk memperoleh ilmu pengetahuan. Yang sulit biasanya adalah memulainya… Tapi setelah memulai, Anda pasti ingin menuntaskannya. Mulailah membuat proposal dengan tekad dan semangat yang kuat agar Anda menyelesaikannya sesuai dengan target dan harapan yang Anda inginkan.
Selamat mencoba… salam sukses!


Dari Pudek Bidang Kemahasiswaan FITK UIN
Ciputat, 26 September 2011