Thursday, June 22, 2017
   
Text Size

TIPS Sukses PIQI

Oleh Muhbib Abdul Wahab
FITK Online - Kamis, 7 April lalu, Laboratorium FITK mengadakan rapat koordinasi antara dosen pembimbing PIQI (Praktikum Ibadah dan Qira’ah) dan praktikan (mahasiswa semester II). Dalam forum itu, saya diminta moderator  Sdr. Tanenji Sagma, Sekretaris Lab., untuk memberikan kiat-kiat mengahafal al-Qur’an.  Saya melihat bahwa kegiatan yang juga dihadiri oleh Dekan FITK, Prof. Dr. Dede Rosyada, MA. dan Pembantu Dekan Bidang Akademik, Nurlena Rifa’i, Ph.D, ini menjadi momentum yang sangat penting dan berharga, terutama bagi praktikan.

Oleh karena pengalaman tahun lalu menunjukkan bahwa tidak sedikit praktikan yang gagal dalam menyelesaikan PIQI, maka berikut ini saya sampaikan beberapa tips sukses ber-PIQI.

  1. Niati (komitmeni) dengan kuat dan ikhlas bahwa PIQI ini bagian dari ibadah.
  2. Baca, pahami, dan pedomani buku panduan yang telah diterbitkan oleh Lab. FITK.
  3. Lakukan komunikasi dan koordinasi dengan dosen pembimbing Anda. Karena itu, Anda wajib mempunyai nomor kontak pembimbing  Anda.
  4. Agendakan bersama dengan pembimbing  waktu dan tempat praktikum yang dapat disepakati bersama.
  5. Targetkan PIQI dapat diselesaikan secara tuntas  secepat mungkin, karena hal ini dapat mengurangi beban tugas Anda, meskipun rentang waktu bimbingan Anda dijatah hingga 31 Desember 2011.
  6. Miliki mushhaf  al-Qur’an standar, sebaiknya mushhaf yang ada terjemahannya ke dalam bahasa Indonesia atau Inggris.
  7. Pilih dan tentukan waktu yang menurut Anda sangat cocok untuk menghafal surat-surat yang menjadi tagihan dalam PIQI. Menurut saya, waktu yang sangat baik dan efektif (berkesan) adalah menjelang dan sesudah subuh. Jadi, biasakan dan disiplinkan diri untuk bangun tidur lebih awal. Ingat sabda Nabi Saw.: “Umatku yang bangun pagi itu selalu diberkahi”. (HR. at-Thabarani). Lebih bagus lagi, jika sebelum subuh Anda masih bisa menyempatkan shalat tahajjud, dan setelah itu berdoa kepada Allah, terutama untuk memperoleh kemudahan dan kelancaraan dalam menghafal al-Qur’an. Saya yakin, amalan seperti itu pasti diijabahi oleh Allah Swt.
  8. Usahakan ayat dan surat yang sedang dihafal dibaca berulang-ulang, terutama dalam shalat.
  9. Jika masih belum bisa hafal dengan sempurna, baca kembali ayat dan surat itu sambil melihat dan merenungi artinya dalam bahasa Indonesia atau  Inggris, lalu baca kembali dalam shalat, pasti hafalan itu makin melekat, dan insya Allah akan tersimpan dalam long term memory Anda. Bukankah Anda hafal surat “yahoo” (baca: ya-hu, alias qul ya ayyuhal kafirun dan qul huwa Allahu ahad) itu karena sedemikian intens Anda membaca dan mengulanginya? Jangan pernah bosan membaca al-Qur’an karena dia adalah bacaan paling sempurna dan merupakan ma’dubat Allah (jamuan super special dari Allah).
  10. Jika Anda sudah menyelesaikan tagihan hafal Juz ‘Amma (juz ke-30) dan 5  surat pilihan lainnya, usahakan Anda masih tetap setiap menjaga hafalan itu dengan menggunakannya untuk bacaan shalat atau bacaan dalam khutbah Jum’at atau lainnya.
  11. Pada saat setor hafalan, usahakanlah Anda datang menghadap dosen pembimbing berdua, bertiga atau berempat, supaya Anda bisa saling menyimak sekaligus meneguhkan hafalan Anda.
  12. Jika memungkinkan, selama praktikum Anda juga bisa “bermitra hafalan” dengan teman sebaya atau guru/ustadz/ustadzah Anda, karena cara ini pasti dapat lebih mempercepat peneguhan memori Anda.
  13. Setelah merampungkan praktikum qira’ah, konsentrasikan diri Anda untuk mengikuti dengan tekun praktikum ibadah. Pelajari bahan-bahan atau materi-materi praktikum ibadah ini dari buku fiqh yang standar.
  14. Kuasai, pahami, dan praktikkan tata cara (kaifiyyat) ibadah yang menjadi tagihan Anda. Ada baiknya Anda juga mengetahui dan menghafal ragam bacaan, misalnya do’a iftitah dan lainnya, sehingga Anda tidak merasa “kaget” jika mendapati bacaaan yang versinya berbeda dengan bacaan yang selama ini menjadi kebiasaan Anda. Fiqh Islam itu luas dan luwes.
  15. Persiapkan diri Anda juga untuk berlatih menjadi khatib atau penceramah dalam forum tertentu  (khutbah Jum’at, ‘idain, dan lainnya).
  16. Persiapkan juga media praktikum ibadah yang diperlukan, misalnya boneka, kain kafan, dan lainnya agar pada saat digunakan Anda benar-benar sudah siap sedia.
  17. Lakukan semua itu dengan niat ibadah sekaligus meningkatkan kualitas  iman, ilmu amaliah dan amal ilmiah. Saya yakin melalui PIQI Anda mendapat dua hal sekaligus, yaitu: pahala ukhrawi dan ilmu+nilai duniawi. Ikhlas,  disiplin, tekun, sabar, dan doa merupakan kata kunci kesuksesan Anda dalam ber-PIQI.

Demikian saja, semoga bermanfaat. Salam sukses selalu bagi Anda mahasiswa kebanggaan kami.
Jakarta, 11 April 2011

Headline

Selamat Atas Terpilihnya Prof. Dr. Dede Rosyada, MA sebagai Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

 

Tips Menarik

Tips Membuat Proposal Penelitian

Oleh Muhbib Abdul Wahab

 

Proposal (usulan) merupakan tahap awal sebuah penelitian. Penelitian yang baik (bermutu) biasanya dimulai dari pembuatan proposal yang baik. Sebagian besar mahasiswa FITK pada semester VII (Gasal) mengikuti perkuliahan seminar proposal skripsi. Berikut ini adalah tips membuat proposal penelitian (terutama untuk praktikum penelitian PPPKT dan penulisan skripsi).

1. Mulailah dengan mengenali masalah yang ada di sekeliling Anda (termasuk di sekolah tempat Anda ber-PPKT) dan menjadi minat kajian Anda. Penelitian harus bertitik tolak dari masalah yang jelas, menarik, kontekstual, dan mendesak dicarikan solusinya melalui penelitian.

2. Masalah itu bersumber dari “kegelisahan” Anda dalam melihat realitas empirik, dan bisa pula berasal dari hasil pembacaan saudara terhadap temuan penelitian orang lain, pengalaman Anda menjadi guru, dan sebagainya. Masalah adalah adanya kesenjangan (ketidaksesuaian) antara teori dan praktik, harapan dan kenyataan, atau yang ideal dan yang faktual. Masalah juga dapat berupa pertanyaan asumtif/kritis/filosofis mengenai suatu wacana atau persoalan yang secara akademik belum terjawab tuntas (oleh para ahlinya).

3. Lanjutkan kegelisahan akademik itu dengan membaca bahan-bahan referensi teoritik, jurnal, hasil-hasil penelitian terkait.

4. Buatlah peta konsep sebagai pijakan membuat kerangka teori. Dalami betul permasalahan teoritis yang berkaitan dengan masalah yang akan diteliti. Misalnya, Anda akan meneliti Efektivitas CTL (Contextual Teaching and Learning), maka Anda harus memahami: apa itu CTL? Mengapa muncul CTL? Bagaimana aplikasinya CTL dalam pembelajaran muhadatsah, apa kelebihan dan kekurangannya? Bagaimana mendesain materi ajar muhadatsah dengan pendekatan CTL? Dst.

5. Sambil membuat peta konsep dan kerangka teori, susunlah sekalian daftar pustaka yang relevan dengan tema atau judul penelitian Anda. Sedapat mungkin, referensi yang Anda jadikan rujukan itu yang terbit 10 tahun terakhir dan dalam 3 bahasa: Arab, Inggris, dan Indonesia (atau bahasa asing lainnya yang Anda kuasai).

6. Kumpulkan bahan pustaka secara memadai melalui berselancar di dunia maya (internet), dan mengunjungi perpustakaan, berkonsultasi dengan dosen penasehat akademik, atau teman sejawat.

7. Telusuri tulisan, artikel, atau hasil penelitian (sebelumnya) yang berkaitan dengan masalah yang akan Anda teliti, dan buatlah sebuah review secara kronologis (menurut urutan waktu/tahun), dan pertegas apa yang menjadi distingsi (pembeda) penelitian Anda dengan yang sebelumnya.

8. Jika sudah merasa cukup memadai Anda melakukan studi kepustakaan, dan sudah mulai ada gambaran yang jelas mengenai masalah apa yang akan Anda jawab melalui penelitian ini, segeralah Anda menulis konsep proposal dengan menuangkan ide-ide yang melatarbelakangi penelitian Anda.

9. Setelah itu, buatlah rumusan masalah yang layak untuk dijawab melalui penelitian. Jangan sekali-kali membuat pertanyaan penelitian yang “bodoh” (Stupid question), misalnya rumusan yang menghendaki jawaban berupa definisi atau penyebutan nama tokoh tertentu. Misalnya: Apa itu muhadatsah? Apa itu fi’il mudhari’? Siapa khalifah keempat dari Khulafa’ Rasyidun? Rumuskanlah masalah (sesuai dengan realitas empirik) yang memang belum terbukti/diketahui jawabannya secara akademik, seperti: “Apa pesan di balik pengulangan redaksi kisah-kisah tentang Nabi Musa dalam al-Qur’an?”, “Bagaimana aplikasi CTL dalam pembelajaran muhadatsah yang dinilai efektif?” “Mengapa pembelajaran PAI dengan metode bermain peranan cenderung lebih efektif dibandingkan dengan metode kisah pada kelas XXX….?”

10. Rumuskan tujuan penelitian sejalan dengan rumusan masalah dan dengan menggunakan kata kerja operasional seperti: menjelaskan, membuktikan, mengungkap, menganalisis, menunjukkan, dan sebagainya.

11. Rumuskan manfaat/signifikansi penelitian dengan “membayangkan” hasil penelitian yang akan Anda peroleh dan yang bisa diberikan kepada pembaca. Manfaat penelitian dapat berupa manfaat teoritis dan praktis-pragmatis. Di antara kata kerja operasional yang dapat digunakan adalah: memberikan kontribusi… memberikan bahan pemikiran, menambah khazanah keilmuan…, meningkatkan…, dan sebagainya.

12. Setelah kerangka teori dan penelitian terdahulu yang relevan dibuat, rumuskanlah metode penelitian yang akan saudara gunakan, meliputi: sumber data, jenis dan pendekatan penelitian, populasi, sampel, dan teknik sampling (jika ada), intrumen/teknik pengumpulan data, teknik pengolahan data, teknik analisis dan interpretasi data, hipotesis penelitian (jika ada), dan keterbatasan penelitian. Ingat, penelitian kepustakaan dan penelitian lapangan (yang sering mewarnai skripsi sebagaian besar mahasiswa UIN) itu BUKAN metode penelitian, melainkan hanyalah bagian dari proses atau tempat penelitian. Jadi, jangan sekali-kali menyatakan: “Metode penelitian ini adalah penelitian kepusatakaan/lapangan”… Metode penelitian merupakan prosedur atau langkah-langkah prosedural yang ditempuh peneliti dari awal hingga akhir (penyusunan laporan) penelitian.

13. Belajarlah menulis proposal dengan bahasa Indonesia (atau bahasa asing) yang baik dan benar, dengan memperhatikan gramatika, diksi, penggunaan ejaan, pungtuasi (tanda baca), dan teknik penulisan yang standar (penggunaan kertas, ukuran huruf, jarak spasi, margin atas/bawah, kanan/kiri, dan sebagainya). Sempatkanlah membaca ulang dan mengedit apa yang telah Anda tulis, sehingga dimungkinkan adanya revisi dan penyempurnaan seperlunya.

Jangan lupa, semuanya harus diniati sebagai ibadah, belajar menemukan kebenaran, meningkatkan kapasitas intelektual, dan belajar melatih kesabaran untuk memperoleh ilmu pengetahuan. Yang sulit biasanya adalah memulainya… Tapi setelah memulai, Anda pasti ingin menuntaskannya. Mulailah membuat proposal dengan tekad dan semangat yang kuat agar Anda menyelesaikannya sesuai dengan target dan harapan yang Anda inginkan.
Selamat mencoba… salam sukses!


Dari Pudek Bidang Kemahasiswaan FITK UIN
Ciputat, 26 September 2011