Sunday, August 20, 2017
   
Text Size

Pendidikan Kejujuran

 

Pendidikan Kejujuran

Oleh Muhbib Abdul Wahab

Kebohongan atau ketidakjujuran dewasa ini tampaknya sudah mewabah di hampir semua aspek kehidupan bangsa. Di mana-mana, kita menyaksikan orang berbohong di DPR, pengadilan, pasar, kantor, kampus, bahkan di tempat ibadah pun ada yang berani berdusta untuk menutupi perilaku amoralnya. Kebohongan menjadi benteng pembelaan diri. Bohong menjadi “barang dagangan yang diobral”. Padahal, tali kebohongan itu pendek. Sebuah ungkapan bijak menyatakan bahwa “Semua tali itu panjang, kecuali tali kebohongan.” Satu kebohongan yang diperbuat oleh seseorang akan dibarengi dan dilanjuti dengan aneka kebohongan lainnya.

Karena itu, ketika didatangi seseorang yang meminta nasihat, Rasulullah SAW berkata singkat kepadanya: “Jangan berbohong” (HR. Muslim). Kalimat singkat, tetapi bernas ini mengandung nilai edukasi yang tinggi, yaitu pendidikan kejujuran. Mendidik manusia supaya berperilaku jujur merupakan esensi pendidikan. Sedangkan esensi pendidikan kejujuran adalah keteladanan yang baik dan benar.

Orang yang berbohong itu sejatinya merugi. Jika kebohongannya tidak diketahui, dia akan mendapatkan dosa dari kebohongannya ini. Dan jika kebohongannya diketahui orang lain, dia tidak akan dipercaya lagi. Implikasinya, hubungan dirinya dengan sesama menjadi kurang baik, karena sudah dicap sebagai pembohong atau munafik. Orang lain tidak akan bersimpati dan menjauhi, bahkan memusuhinya.

Orang yang jujur dan tidak suka berbohong secara psikologis tidak dihantui rasa bersalah dan hati yang gundah (menderita). Hatinya selalu merasa tenteram, damai, dan bahagia.
Sebaliknya, orang yang biasa berdusta, hidupnya menjadi tidak tenang, dikejar-kejar oleh “pemberontakan” hati kecilnya yang selalu menyuarakan kebenaran. Dia selalu merasa khawatir kebohongannya terbongkar dan menampar muka sendiri dengan menanggung rasa malu.

Kebiasaan tidak jujur itu sangat berbahaya, tidak hanya bagi orang lain, tetapi juga bagi diri pembohon itu sendiri. Selain kepercayaan dan wibawanya hilang, penyakit pembohong itu semakin bertambah dan bertumbuh. Allah SWT berfirman: “Dalam hati mereka (orang-orang munafik) itu ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.” (QS Al-Baqarah [2]: 10).

Pendidikan kejujuran harus dimulai dengan jujur kepada diri sendiri, dengan senantiasa meminta “fatwa kebenaran” yang bersumber dari hati nurani. “Istafti qalbaka” (minta fatwalah kepada hatimu!), sabda Nabi SAW. Setelah itu, seperti disabdakan oleh Nabi SAW, “Hendaklah kamu selalu benar. Sesungguhnya kebenaran membawa kepada kebajikan dan kebajikan membawa ke surga. Selama seorang benar dan selalu memilih kebenaran dia tercatat di sisi Allah seorang yang benar (jujur). Waspadalah terhadap dusta. Sesungguhnya dusta membawa kepada kejahatan dan kejahatan membawa kepada neraka. Selama seorang dusta dan selalu memilih dusta dia tercatat di sisi Allah sebagai seorang pendusta/pembohong.” (HR Bukhari).

Pendidikan kejujuran dapat terwujud dan menjadi kepribadian seseorang manakala ia selalu belajar menjalani kehidupan ini dengan lima hal, yaitu: iman, ikhlas, ihsan, ilmu, dan istiqamah. Dengan iman, ia yakin Allah pasti mengawasi dan mencacat seluruh amal perbuatannya, termasuk kebohongannya. Dengan ikhlas, ia dididik untuk melakukan sesuatu tanpa pamrih, tetapi semata-mata mengharapkan ridha Allah. Dengan ihsan, ia akan berbuat yang terbaik untuk orang lain. Dengan ilmu, ia tahu mana perbuatan haram dan halal, baik dan benar, sehingga tidak terpikir sedikitpun untuk melakukan pelanggaran hokum dan moral. Dan dengan istiqamah, ia belajar mengawal kebaikan dan kebenaran yang sudah dibiasakannya menjadi lebih baik dan lebih diridhai Allah SWT.

Pendidikan kejujuran dapat memasyarakat dan membangsa jika para pemimpin negeri mampu memberikan keteladan moral yang baik. Karena itu, para pemimpin perlu menyadari betapa pentingnya nilai kejujuran, termasuk menyadari akibat kebohongan yang dilakukannya. Nabi SAW mengingatkan: “Tiga golongan manusia, yang pada hari kiamat kelak tidak akan dipandang oleh Allah dengan rahmat-Nya, bahkan mereka itu akan memperoleh siksaan yang menyakitkan, yaitu: orang tua yang berbuat zina, penguasa yang berdusta, dan orang melarat yang sombong.” (HR Muslim).

Sumber tulisan: HU Republika, 20 Pebruari 2012