Thursday, June 22, 2017
   
Text Size

Hijrah dan Pendidikan Nilai

 

Hijrah dan Pendidikan Nilai

Oleh Muhbib Abdul Wahab

Ketua Jurusan Pendidikan Bahasa Arab FITK dan Dosen Pascasarjana UIN Jakarta

Hijrah secara bahasa artinya meninggalkan dan pindah, baik fisik maupun mental-spiritual. Berpindah menunjukkan adanya dinamika dan transformasi. Manusia perlu hijrah karena perbaikan kualitas hidup menuntut adanya transformasi fisik dan mental- spiritual. Oleh karena itu, di antara ayat yang turun kepada Nabi Muhammad SAW pada awal kenabiannya adalah perintah hijrah. "Dan hendaklah engkau hijrah (tinggalkan) dosa besar" (QS. Al-Mudatstsir [74]: 5).

Bagi Nabi SAW, hijrah bukan hanya merupakan strategi dakwah Islam, tapi juga merupakan pengembangan kecerdasan spiritual dan pendidikan nilai. Sungguh luar biasa kesabaran jiwa Nabi SAW dan para sahabatnya dalam menghadapi berbagai intimidasi, cercaan, makian, boikot, bahkan ancaman pembunuhan terhadap dirinya dari kaum kafir Quraisy. Pada malam hijrah Nabi SAW ke Madinah, Abu Jahal cs. setelah merencanakan untuk menangkap hidup-hidup atau membunuh Muhammad. Sesuai dengan hasil "permufakan jahat" di Darun Nadwah –tempat berkumpulnya para petinggi Quraisy— Abu Jahal telah mengerahkan ratusan pasukan untuk mengepung rumah Muhammad SAW. untuk menangkap hidup-hidup atau membunuh Nabi.

Rencana jahat itu disampaikan oleh Jibril AS kepada Nabi SAW agar pada malam hijrah itu Ali bin Abi Thalib menempati tempat tidur Nabi dan beliau diizinkan untuk berhijrah. Kata Nabi kepada Ali: "Tidurlah di atas ranjangku, dan berselimutlah dengan selimutku yang berwarna hijau ini!" Pada saat itu, Allah juga menurunkan ayat kepada Nabi Muhammad: "Dan ketika orang-orang kafir itu membuat rencana jahat terhadapmu untuk dapat menangkapmu, membunuhmu, atau mengusirmu; mereka merencanakan jahat dan Allah pun membuat rencana serupa. Allah itu Mahapembuat rencana." (QS Al-Anfal [8]:30).

Pendidikan Nilai

Ketika menerima ayat tersebut, Nabi SAW sama sekali tidak panik dan berkecil hati. Nabi SAW meninggalkan kota kelahirannya menuju Yatsrib (Madinah) dengan terlebih dahulu transit selama tiga malam di gua Tsur. Peristiwa transitnya Nabi dalam gua Tsur ini memberi pelajaran bahwa dakwah dan pendidikan Islam harus dikawal dengan penuh perencanaan dan strategi. Kalau saja Nabi SAW tidak transit, boleh jadi beliau dan Abu Bakar Ash-Shiddiq dapat dikejar dan ditangkap oleh pasukan bayaran Quraisy. Strategi Nabi sangat efektif; dengan transit ini beliau dapat melakukan apa yang dalam bahasa militer disebut "operasi intelijen" melalui Abdullah dan Asma' binti Abu Bakar terhadap pergerakan musuh, sekaligus dapat menambah pasokan logistik karena perjalanan yang ditempuh masih jauh.

Di gua tersebut, sahabat Abu Bakar sempat menangis karena dua hal: ketakutan lantaran melihat musuh yang mengintip dari mulut gua, dan kesakitan karena menahan gigitan ular yang ada di salah satu lubang gua. Nabi kemudian membacakan ayat: "Jangan engkau bersedih hati, sesungguhnya Allah bersama kita! lalu Allah memberikan ketenangan kepadanya dan memberikan dukungan berupa tentara yang tidak dapat dilihat, dan Allah menjadikan "misi" orang-orang kafir itu rendah (gagal), sementara kalimah Allah itu paling tinggi (unggul)..." (QS. At-Taubah [9]: 40). Dengan demikian, hijrah spiritual mendidik kita untuk tidak takut kepada musuh Islam, sebab yang harus dan hanya ditakuti adalah Allah SWT. Pendidikan nilai spiritual semacam ini sangat penting karena sering kali manusia lebih takut kehilangan kdudukan, jabatan, dan kekuasaan daripada takut kepada azab Allah Swt.

Nabi SAW. berhijrah bukan untuk melarikan diri, tetapi menyelamatkan visi dan misi Islam sebagai rahmat untuk semua. Oleh karena itu, pesan moral hijrah yang terpenting adalah pendidikan mental spiritual dengan memurnikan tauhid kepada Allah, dan sekaligus pembebasan umat manusia dari ketertindasan, kezhaliman, dan penjajahan, terutama penjajahan hawa nafsu. Selama prosesi hijrah, Nabi SAW sungguh menampilkan figur teladan dalam mengawal dan menyelamatkan visi dan misi suci Islam dengan penuh amanah dan kecerdasan intelektual, emosional maupun spiritual.

Hijrah mendidik umat Islam agar selalu berkomitmen terhadap nilai-nilai heroik. Menjadi Muslim harus siap menjadi pejuang, penegak kebenaran dan keadilan, di manapun dan kapanpun. Nilai-nilai heroik dari hijrah tidak hanya tercermin dalam hijrah pertama umat Islam ke Habsyi (yang waktu itu tidak diikuti langsung oleh Nabi), tapi juga terlihat dengan jelas dalam peristiwa hijrah Nabi dan para sahabatnya dari Mekkah ke Madinah. Mereka semua rela mengorbankan harta, raga, dan bahka jiwanya demi kejayaan Islam. Nilai heroik semacam ini sangat penting karena tidak jarang sebagian orang ketika dihadapkan kepada pilihan perjuangan, maka yang dicari adalah “menyelamatkan diri” lebih dulu dan mencari keuntungan (duniawi) yang sebesar-besarnya.

Pendidikan nilai spiritual dan sosial dari hijrah juga tampak dalam regulasi Nabi terhadap masyarakat plural Yatsrib (Madinah). Dengan membangun masjid, sebagai pusat pendidikan nilai dan pemeradaban umat, Nabi melakukan transformasi nilai-nilai spiritual dan sosial. Dengan pembuatan traktat (mitsaq) Madinah, Nabi mengonsolidasikan dan menyatukan potensi dan kekuatan masyarakat. Nabi dan para Muhajirin datang ke Madinah bukan untuk mengekspansi, tetapi memberikan pendidikan nilai berupa pentingnya integrasi berbagai elemen masyarakat, sehingga dapat diwujudkan sistem masyarakat dan bangsa yang berperadaban. Pendidikan nilai integrasi ini terbukti sangat efektif dilakukan oleh Nabi, sehingga dalam waktu yang relatif singkat Islam menjelma menjadi sebuah kekuatan politik mampu mendamaikan berbagai faksi, etnis, dan suku bangsa yang bertikai; mewujudkan masyarakat madani yang berkeadilan dan berkesejahteraan.

Nilai Tauhid & Kemanusiaan

Peristiwan hijrah juga sarat dengan nilai tauhid dan kemanusiaan. Khalifah Umar ibn al-Khattab memaknai peristiwa ini, antara lain, dengan penetapan kalender Islam (Hijriyyah). Kalender Hijriyyah ini sendiri mengandung pesan tauhid yang sangat dalam, bahwa nama-nama hari dalam kalender ini dimulai dengan Ahad (Esa), Itsnain (Senin, dua), dan seterusnya. Penamaan hari dalam kalender ini tidak lagi dipengaruhi oleh mitologi Yunani atau Romawi yang sarat dengan kemusyrikan seperti tercermin, misalnya, dalam penamaan Sunday (dewa matahari) untuk hari pertama, Monday (dewa bulan) untuk hari kedua, dan seterusnya. Hari keenam dinamai jum’at yang berarti pertemuan, konsolidasi dan persatuan, karena umat Islam (lelaki) wajib melakukan shalat berjamaah di masjid. Sedangkan hari ketujuh dinamai Sabt, yang berarti istirahat, karena umat Islam diharapkan tidak meniru tradisi Yahudi yang pada hari itu melakukan “ibadah” dan berdoa di tembok ratapan (hââith al-mabka). Dengan demikian, peristiwa hijrah merupakan proses reformasi tauhid (iman) dan sekaligus transformasi sosial dan kultural kemanusiaan.

Dalam konteks ini, Hannan al-Lahham dalam bukunya, Hadyu as-Sirah al-Nabawiyyah fi al-Taghyir al-Ijtima'i (2002), menyatakan bahwa hijrah yang selalu aktual dan kontekstual adalah hijrah spiritual. Setiap Muslim dituntut mampu melakukan perubahan menuju peningkatan kualitas iman dan taqwa, ketaqwaan personal dan sekaligus ketaqwaan sosial-kultural. Keteladanan ini ditunjukkan oleh Nabi SAW. ketika sampai di Madinah, yaitu dengan mendirikan masjid sebagai pusat spiritualisasi dan peradaban umat, pemersatuan umat (kaum muhajirin dan Anshar), pendeklarasian kerukunan umat beragama, penandatanganan piagam Madinah, hingga penegakan supremasi hukum melalui pemerintahan yang amanah, bersih, berwibawa, dan bermartabat.

Momentum pergantian tahun baru 1433 Hijriyah sudah semestinya menjadi tonggak perubahan atau transformasi. Sudah saatnya bangsa kita berubah (merubah diri) dari pemalas menjadi pejuang, dari pecundang menjadi pemenang; dari perusak alam menjadi pemelihara; dari mental dan budaya korup menjadi bermental amanah, jujur dan bersih. Yang sangat dibutuhkan oleh bangsa kita ke depan adalah membangun karakter (character building) yang tangguh. Hijrah, menurut Ibn Qayyim al-Jauziyyah mendidik kita semua untuk tidak menghambakan diri kepada semua tujuan dengan menghalalkan segala cara, tetapi yang menjadi orientasi dan tujuan hidup kita adalah cinta dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Perubahan besar hanya dapat terjadi jika kita telah dengan serius “menghijrahkan” diri kita dari kondisi “Jahiliyah” (syirik, termasuk syirik politik, dan kebiadaban) menuju sistem nilai “Madinah” yang berperadaban dan berkeadaban. Selamat tahun baru Hijriyah 1433 H. Wallahu a’lam bi al-shawab!