Thursday, July 27, 2017
   
Text Size

Bencana Alam dan Pendidikan Lingkungan

Bencana Alam dan Pendidikan Lingkungan

Oleh Dr. Muhbib Abdul Wahab, MA.

Pembantu Dekan Bidang Kemahasiswaan FITK & Dosen Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

 

Musibah demi musibah, bencana demi bencana itu seakan berlomba mendera bangsa tercinta. Korban jiwa, harta benda, dan kerusakan alam takdapat dielakkan. Apakah alam sudah tidak lagi ramah dengan kita atau kita yang tidak ramah dengan alam? Bagaimana kita memaknai musibah itu dalam konteks pendidikan lingkungan? Masihkah kita termasuk pemelihara dan pelestari alam yang merupakan amanat Tuhan?

Jika berefleksi dan berintrospeksi diri, kita memang harus banyak belajar: belajar hidup harmoni dengan alam, belajar mengelola alam dengan penuh tanggung jawab, belajar untuk tidak mengeksploitasi alam dengan semena-mena.

Fakta  dan data kerusakan (dan pengrusakan) ekosistem alam ini sudah melewati ambang batas kewajaran. Polusi udara dan air (laut, sungai, tanah) akibat industri dan gas buang kendaraan bermotor, terutama di kota besar seperti Jakarta, dalam sepuluh tahun terakhir sungguh mengkhawatirkan. Pembalakan liar (illegal logging) yang membuat penggundulan hutan kita lebih dari 2 juta ha/tahun. Sekedar perbandingan, hutan Ethiopia sudah mengalami kerusakan hingga 90% sejak tahun 1900-an; dan akibatnya kini sering mengalami kemarau panjang, krisis pangan, gizi buruk, krisis air, dan menjadi negara yang sangat miskin.

Menurut perkiraan, menjelang tahun 2025, negara berkembang akan menanggung risiko 4x lebih besar dari kondisi sekarang akibat karbon dioksida yang dihasilkan negara-negara maju (industri); 25% species di muka bumi ini akan punah. Data sementara menunjukkan bahwa 28% hewan asli Australia kini sudah mengalami kepunahan; sementara itu, hutan dunia berkurang rata-rata 2% setiap tahun.

Ringkasnya, lingkungan kita semakin hari semakin rusak. Buktinya sangat jelas: banjir terjadi di mana-mana; bahkan banjir pun kini tidak lagi harus disebabkan oleh curah hujan yang tinggi, tetapi juga disebabkan adanya rob (air laut pasang yang menggenangi daratan akibat mencairnya es di kutub utara dan menurunnya permukaan tanah), perubahan iklim sangat ekstrem, pemanasan global (global warming) sudah dirasakan oleh hampir semua negara di dunia, tanah longsor, angin topan/puting beliung/tornado yang “menggila”, kegagalan sistem pertanian/ketahanan pangan akibat perubahan cuaca (climate change), dan sebainya.

Revitalisasi Pendidikan Lingkungan

Pendidikan lingkungan (al-Tarbiyah al-Bîiyyah) merupakan proses penyiapan, penyadaran, dan pendewasaan manusia agar dapat berinteraksi, berperilaku, dan melestarikan lingkungannya (khususnya lingkungan alam) secara sehat, harmoni, dan wajar berdasarkan nilai-nilai moral dan agama (Islam).

Pendidikan lingkungan tidak sama dengan studi lingkungan (al-Dirâsât al-Bîiyyah). Studi lingkungan cenderung bersifat kajian akademis: penelitian, penyediaan informasi dan data mengenai lingkungan hidup, tanpa memperhatikan pentingnya perubahan sikap, mentalitas, dan perilaku yang ramah lingkungan.

Sejak dibumikan, Islam telah mengingatkan manusia bahwa kerusakan di daratan dan di lautan itu akibat ulah (sikap, perbuatan, kebijakan, perlakuan) salah manusia terhadap alam (QS. Ar-Rum [30]: 41). Dalam ibadah haji, Islam juga memberikan pelajaran ekologis kepada para jama’ah untuk tidak mencabut dan memotong tanaman, berburu binatang, dan menjaga kebersihan hati dan lingkungan.

Pendidikan lingkungan berbasis nilai-nilai Islam diorientasikan kepada; pertama, penumbuhan kesadaran lingkungan yang benar di kalangan umat manusia melalui visi hidup sehat, bersih, ramah lingkungan, harmoni terhadap alam demi masa depan anak cucu kita. Kedua, pengembangan dan pemberdayaan nilai-nilai moral, orientasi dan keterampilan ekologis yang  religius (tidak eksploitatif, destruktif), sehingga lingkungan dapat dikelola dengan baik, dan dimanfaatkan demi kesejahteraan dan kemaslahatan umat manusia.  Ketiga, aktualisasi ekosistem kehidupan terpadu: alam, biologi, sosial, budaya, ekonomi, dan sebagainya secara seimbang dan harmoni dan mutualisme dengan lingkungan alam.

Revitalisasi pendidikan lingkungan menghendaki pengembangan kapasitas SDM yang kompeten dalam mengitegrasikan nilai-nilai ekologis dengan sistem pendidikan. Umat manusia perlu menjadikan lingkungan alam sebagai “laboratorium ilmu dan kebesaran” Allah SWT dengan memahami alam dengan baik, bersikap dan berinteraksi dengannya secara baik termasuk bagian dari akatualisasi iman dan amal shalih.

Internalisasi Nilai-nilai Ekologis

Menurut penulis, setidaknya ada empat nilai ekologis-religius yang perlu diintegrasikan dan diaktualisasikan dalam pendidikan lingkungan, yaitu: (1) nilai-nilai pemeliharaan/pelestarian, (2) nilai-nilai pemanfaatan dan pendayagunaan, (3) nilai-nilai interaksi, adaptasi, perlakuan dan keyakinan, dan (4) nilai-nilai estetika/keindahan.

Islam mewajibkan umatnya agar memelihara dan melestarikan kebersihan udara, lingkungan tinggal dan alam sekitar dengan menanam tanaman. Islam juga menuntut kita semua untuk melakukan konservasi sumber daya hewani dan nabati, flora dan fauna, sumber daya air (hujan, mata air, sungai, danau, laut, setu, dsb.). Kebersihan jalan, rumah ibadah, lembaga pendidikan, dan area publik lainnya juga perlu mendapat perhatian kita semua. Karena itu, membersihkan duri/paku/penghalang kenyamanan pengguna jalan merupakan bagian dari perilaku orang yang beriman (HR. Muslim).

Selain itu, Islam juga mewajibkan umatnya agar dalam memanfaatkan sumber daya alam  secara tidak berlebihan (isrâf), tidak boros (tabdzîr), tidak berfoya-foya, tidak merusak habitat atau keseimbangan alam, tidak mencemari/membuat polusi. Sebaliknya, Islam mengedepankan asas harmoni, keseimbangan, dan kelestarian; melindungi dan memperbaiki yang terancam rusak, punah, atau sudah rusak; dan menggiatkan penghijauan. Prinsipnya adalah menanam itu lebih baik daripada memetik tanpa ikut menanam.

Dalam berinteraksi dengan alam, Islam mewajibkan umatnya agar memperlakukan   lingkungan dengan pandangan positif terhadap alam. Alam adalah amanah dan nikmat Allah yang wajib disyukuri dengan dipelihara dan dimanfaatkan sebaik-baiknya. Prinsip taskhîr dan ta’mîr (penundukan/penguasaan hukum-hukum kausalitas dan pemanfaatan demi kemakmuran hidup manusia) juga perlu dikembangkan, agar  potensi alam dapat dikelola dan dioptimalkan pendayagunaannya demi kesejahteraan umat manusia.

Dalam memperlakukan alam, Islam juga menghendaki pembebasan manusia dari keyakinan palsu, khurafat dan animisme atau segala bentuk kemusyrikan, seperti percaya batu/pohon besar, ritual tertentu pada tempat tertenu yang diyakini keramat, dan sebagainya. Yang tidak kalah pentingnya adalah perlunya upaya terus-menerus untuk memahami watak/karakter alam agar kita bisa beradaptasi dengannya secara harmoni.

Selain itu, Islam juga mewajibkan umatnya agar mengembangkan lingkungan yang berwawasan estetika (keindahan). Dalam konteks ini, Islam menuntut adanya (a) pengembangan rasa keindahan (sense of beauty) lingkungan, mulai dari rumah tinggal, rumah ibadah, lingkungan sekitar, (b) penciptaan tata kampung, tata desa, tata kota yang asri, nyaman, indah, dan menyejukkan pandangan mata/hati (qaryah thayyibah), (c) penghijauan lingkungan dengan tanaman hias maupun tanaman buah yang memberi nilai gizi atau kesehatan, (d) bersikap apresiatif terhadap keindahan alam, cinta pemandangan yang indah dan keteraturan lingkungan, dan (e) pengembangbiakan berbagai jenis tanaman atau species langka demi kelestarian lingkungan.

Keteladanan Semua

Di saat bumi semakin tidak “ramah” dengan penghuninya, yang sangat diperlukan adalah keteladanan. Rasulullah SAW memberikan keteladan yang sangat baik dalam memberikan pendidikan lingkungan. Beliau bersabda: "Siapa yang menyingkirkan kotoran atau duri yang mengganggu lalu lintas kaum Muslim, maka perbuatannya itu dicatat sebagai kebaikan; dan siapa yang kebaikannya diterima (oleh Allah), maka ia akan masuk surga." (HR At-Thabarani).

Beliau juga melarang para sahabatnya untuk tidak mengotori, mencemari, atau membuat polusi pada aliran air. "Hendaklah salah seorang di antara kalian tidak mengencingi air tenang yang mengalir dan menjadi tempat orang mandi." (HR Ibn Majah).

Pendidikan lingkungan juga meliputi sosialisasi dan internasilasi pentingnya sikap hemat dalam pendayagunaan sumber daya alam seperti air. Suatu ketika Rasul berjalan melalui Sa'ad bin Abi Waqqash yang kebetulan sedang berwudhu. Kepadanya Rasul berkata: "Hai Sa'ad, janganlah engkau bersikap boros/berlebih-lebihan dalam menggunakan air!" Sa'ad menjawab: "Apakah dalam penggunaan air ada peluang berlaku boros?"  "Ya, meskipun engkau berwudhu dalam air sungai yang sedang mengalir," jawab Rasul (HR Ibn Majah).

Keteladanan Rasul dalam hadis-hadis berwawasan ekologis tersebut mendidik kita semua agar memiliki kedasaran dan manajemen ekosistem dan kecerdasaran ekologis yang tinggi, sebab jika tidak pandai mengelola nikmat Allah, bukan tidak mungkin nikmat itu justeru berubah menjadi malapetaka yang menyengsarakan kita semua. Para pemimpin negeri dituntut untuk berperan aktif dalam memberi keteladanan ekologis yang baik, sehingga umat dan bangsa memiliki kepedulian terhadap pemeliharaan dan konservasi alam.

Pendidikan lingkungan ini perlu dimulai sejak dini, mulai dari diri sendiri, lingkungan rumah tangga, lingkungan rumah ibadah hingga rumah makan, rumah binatang, dsb. Allah tidak akan pernah merubah kondisi/lingkungan suatu masyarakat selama warga masyarakat itu tidak melakukan perubahan (yang dikehendakinya) (QS. al-Ra’d [13]: 11). Dalam hal ini, manusia mempunyai andil dan kontribusi besar dalam merawat dan melestarikan bumi sebagai amanah Tuhan.

Akhirnya, semoga kita semua belum terlambat dalam menumbuhkan komitmen bersama untuk menyelamatkan bumi dan lingkungan hidup kita. Kita juga berharap terhadap pemerintahan SBY Jilid II mampu memberi keteladanan yang baik (qudwah hasanah) dalam menjaga dan melestarikan bumi Indonesia, sekaligus peduli mengaktualisasikan pendidikan lingkungan bagi semua, sehingga kelak tidak “digugat” anak-cucu kita: “mengapa bumi yang diwariskan para pendahulu mereka semakin merana dan tidak ramah lagi??”. Wallahu a’lam bi al-shawab!