BIOMA MARET

Karya : Anonim

Pentingnya Pembaharuan Dalam Islam dan Mempermudah Urusan Agama

Karya: Ahmad Faiz Muzaki

Berislam itu gampang, ndak rumit, apalagi berat. Justru diri kita sendirilah yang menjadikan seolah-olah ngislam itu ribet alias rempong. Padahal, sebetulnya enggak. Enggak begitu.

Di zaman yang penuh kecanggihan (dibaca: edan) ini masih banyak ditemukan spesies manusia yang masih suka berpikiran kolot, picik, bahkan sempit. Alias ndak openminded lha gitu. Wong gimana, toh seolah-olah mereka menjadikan Islam itu sebagai sebuah tradisi belaka bukan sebagai ajaran agama sebagaimana mestinya.

Lantas, muncul sebuah pertanyaan. Memangnya apa perbedaan antara agama dengan tradisi?

Begini, ya. Agama itu muncul dari alam bawah sadar manusia, sedangkan tradisi sebaliknya. Lebih jelas lagi, tradisi itu sendiri muncul sebab-akibat dari adanya sebuah problem sosial yang tengah dihadapi oleh sekelompok masyarakat tertentu.

Enggak cukup sampai di situ. Tradisi kerapkali dijadikan nilai dan norma sosial yang dilakukan secara terus-menerus hingga menjadi sebuah kebudayaan yang mutlak. Di samping itu, tradisi juga mengakar kuat dari ajaran-ajaran nenek moyang yang dibawa sejak dulu dan masih terus dilestarikan hingga kini oleh generasi penerusnya.

Jika melihat dalam konteks sekarang ini, tentu kita akan sepakat mengatakan bahwa ajaran agama yang dibalut dengan sebuah tradisi tertentu memiliki korelasi yang cukup kuat. Alasan inilah yang membuat mereka seolah-olah menjadikan agama sebagai ajaran tradisi yang harus terus dipertahankan.

Dengan kata lain, ajaran agama tok aliashanya mandek sebatas untuk memenuhi syarat terlaksananya sebuah tradisi tertentu. Dari sini kita bisa mengambil kesimpulan bahwa masyarakat kita pada umumnya tidak mau melakukan suatu perubahan atau kemajuan-kemajuan yang seharusnya dilakukan. Dan, inilah kelemahan kita sebagai umat beragama!

Di zaman yang serba canggih ini, zaman di mana kemajuan teknologi kian hari kian membabi-buta, gejolak-gejolak yang bermunculan darinya kian meningkat drastis dan semakin sadis. Tentu beragam tantangan yang silih berdatangan menuntut kita untuk menjadi manusia yang lebih inovatif, kreatif, dan kritis.

Beragam tantangan yang tengah dihadapi umat saat ini seharusnya menjadi langkah awal kita untuk melakukan suatu hal yang sifatnya berkemajuan dan memberikan dampak yang positif bagi kemaslahatan umat. Al-Qur’an sebagai pedoman hidup manusia—wabil khusus umat Islam—yang memberikan petunjuk dan pembeda dari segala yang haq dan bathil, sudah semestinya menjadi pegangan sekaligus tuntutan untuk mengatasi seluruh dinamika kehidupan yang tengah berlangsung. Begitu juga dengan sunnah atau hadits Nabi.

Segala dinamika kehidupan yang ada di dunia ini merupakan sunnatullah atau kalau kita pakai teori sains namanya ‘hukum alam’ yang niscaya pasti akan terjadi. Terlepas dari apa yang kita rencanakan. Oleh karena itu, hal yang semestinya perlu kita lakukan sekarang ialah beralih kepada ajaran Al-Qur’an maupun sunnah atau hadist Nabi yang ditafsirkan sesuai dengan konteks yang sedang dialami beserta ijma’ dan hasil ijtihad kontemporerpara ‘ulama dan cendekiawan masa kini.

Dengan melakukan upaya-upaya itu, setidaknya dapat memudahkan kita dalam mengatasi problem kehidupan umat yang tengah dan akan terjadi.

Hakikat agama sebetulnya untuk menjawab berbagai arus persoalan zaman yang tengah dihadapi saat ini dan nanti. Bukan hanya sekadar untuk ritual atau seremonial belaka. Jumud atau mandeknya pemikiran kita mengenai bagaimana menunaikan hakikat ajaran agama sejatinya menjadikan umat Islam itu sendiri mundur alias mengalami ketertinggalan yang sangat jauh ketimbang bangsa-bangsa Barat kini yang notabenenya telah maju.

Bahkan, salah satu pendiri negara kita, Bung Karno pernah mengatakan bahwa Islam is Progresif, Islam itu harus berkemajuan! Sosok yang dikenal sebagai nasionalis sejati, tidak menghalangi pemikiran beliau mengenai perlunya pembaharuan (tajdid) dalam Islam.

Beliau tahu betul bahwa salah satu sebab kemunduran umat Islam di Indonesia pada saat itu bahkan sekarang ialah tidak menjadikan agama sebagai sesuatu yang dapat mengatasi permasalahan umat dan bangsa yang tengah dihadapi.

Kalau kita kilas balik sejarah masa kenabian, problem yang dihadapi zaman Nabi Muhammad dengan zaman modern sekarang pasti akan jauh berbeda. Boleh dipastikan, Islam yang diajarkan dan dilakukan oleh Nabi Muhammad sendiri saat itu belum tentu mampu menjawab semua persoalan yang tengah dihadapi oleh umat saat ini.

Oleh sebab itu, diperlukan ijtihad dari para cendekiawan atau ‘ulama yang merepresentasikan nilai atau ajaran agama Islam dengan melibatkan masyarakat serta berkolaborasi dengannya untuk mengatasi segala persoalan umat manusia di era global ini tanpa memperkosa maupun menelanjangi syariat Islam itu sendiri.

Agama menghendaki kita untuk bermudah dalam melaksanakan nilai-nilai ajarannya. Berikut saya paparkan contoh permasalahan sederhana sekaligus solusinya sebagai bukti bahwa agama itu menghendaki kemudahan. Misalnya, dalam berzakat fitrah ketika bulan Ramadhan. Sesuatu atau bahan yang bisa dibayarkan untuk zakat itu bisa bermacam-macam. Mulai dari gandum, roti, bahkan beras. Semuanya dapat digunakan untuk berzakat.

Perlu diketahui bahwa sebetulnya yang menjadi pokok permasalahan sekaligus esensi dalam berzakat adalah bukan terletak pada zakatnya, akan tetapi bahan apa yang seharusnya diberikan untuk menunaikan zakat. Nabi berzakat fitrah menggunakan gandum karena bahan pokok mayoritas di Arab itu gandum.

Kita yang katanya mengaku sebagai umat Nabi dan orang Indonesia bukan berarti harus berzakat fitrah dengan gandum pula. Akan tetapi, kita bisa membayar zakat fitrah dengan menggunakan bahan pokok lain, beras misalnya. Jelas, karena bahan pokok di negara kita adalah beras. Semua orang juga tahu bahwa kedua bahan pokok  yang telah disebutkan tadi berasal dari letak geografis yang sudah jelas berbeda.

Melalui contoh di atas dapat kita artikan bahwa tujuan dari agama ialah memudahkan umatnya untuk menunaikan zakat fitrah menggunakan bahan pokok berdasarkan letak geografisnya masing-masing. Di sinilah letak kemudahan dalam berislam. Kalau bisa dibuat mudah kenapa mesti mempersulit. Gimana sampai sini paham kan?

Oke, saya berikan contoh lainnya. Sejak zaman Nabi hingga teknologi belum berkembang secara pesat, kegiatan dakwah selalu dilakukan dari mimbar ke mimbar, dari tiap-tiap masjid, dari satu majelis ke majelis lainnya. Media dakwah yang digunakan juga masih terbilang cukup konvensional baik berupa ucapan maupun tulisan-tulisan yang ditulis oleh para sahabat yang selalu setia dalam menyimak terhadap apa yang disampaikan oleh Nabi.

Belum ada akses internet saat itu, sehingga umat yang ingin mendengar dakwah Nabi harus menemui tempat di mana Nabi berdakwah secara langsung. Berbeda dengan saat ini, di mana teknologi sudah semakin canggih dan tidak menutup kemungkinan akan terus mengalami perkembangan, dakwah bisa dilakukan melalui media digital.

Pendakwah sekarang tidak perlu repot-repot lagi datang ke sana ke mari memenuhi panggilan. Hampir semua orang bisa mengakses dan menyaksikan konten dakwah Islam yang telah  disampaikan oleh para pendakwah melalui beragam platform digital seperti Youtube, Instagram, Facebook, Telegram, dan lain sebagainya. Dengan adanya transformasi media dakwah, diharapkan ajaran Islam dapat menyebar secara masif dan luas.

Dari contoh tersebut, dapat kita bandingkan bahwa kedua media yang digunakan oleh Nabi dulu dan pendakwah sekarang tentu jelas berbeda. Media dakwah boleh berbeda, akan tetapi isi dari dakwah itulah yang mesti tersampaikan. Dan inilah yang paling penting!

Beragam kemudahan yang telah disebutkan di atas merupakan hal yang dikehendaki agama. Dalam melakukan segala kebaikan sekecil apapun dalam berislam tentu kita boleh melakukannya dengan cara apapun selagi cara itu tidak merusak citra agama apalagi bertentangan dengan agama itu sendiri. Gimana mudah kan? Kalau boleh meminjam kutipan Gus Dur “Gitu aja kok repot!”

Jadi, janganlah kita terlalu terpaku dengan cara-cara berislam yang kolot dan jumud. Sebab tidak semua ajaran-ajaran yang sejak 14 abad lalu yang disebarkan oleh Nabi Muhammad beserta permasalahan yang dihadapi kala itu masih relevan dengan zaman yang sudah serba canggih saat ini. Wallahu a’lam bisshawab.

TUHAN

Karya: Ahmad Faiz Muzaki

Tuhan

Ku tahu kuasa-Mu luar biasa

Wujudmu takkan ada yang menyerupa

Kasih sayangmu juga tak pernah pura-pura

Tuhan

Karunia-Mu tidak pernah terkira

Ampunan-Mu sungguh tiada terhingga

Kepada siapapun tak pandang rupa

Tuhan

Ku tahu Engkaulah Yang Maha Perkasa

Bijaksana pada alam semesta raya

Memaafkan kepada siapa sahaja

Pada hamba yang suci maupun penuh dosa

Tuhan

Terkadang aku lupa

Atas segala limpahan curahan karunia

Yang telah Kau berikan cuma-cuma

Tak pernah minta budi apalagi balas jasa

Tuhan

Diriku telah dipenuhi dosa

Dosa yang banyaknya tak terkira

Keji dan mungkar kian bergelora

Kian melekat dalam sanubari jiwa

Tuhan

Aku tahu Kau-lah Yang Maha Perasa

Yang senantiasa mendengar keluh kesah hamba

Tak peduli betapapun saatnya

Yang kutahu Kau ‘kan tetap bersama

Tuhan

Izin diriku menjadi hamba yang pemula

Yang senantiasa memohon ampunan dosa

Agar tak menyesal di hari yang penuh huru-hara

Serta berharap dapat berjumpa dengan kekasih-Mu yang mulia

Menjemput Sholat

Karya: Hannadiva Fauzia

Kala rindu melanda

Tak sanggup rasanya Membendung rasa

Padamu wahai Rasulullah Tercinta

Begitu banyak jasamu bagi dunia

Hingga tak terkira dengan kata-kata

Apalagi untuk menunaikan tugas paling mulia

Menjemput sholat menembus semesta

Melihat balasan takwa dan dosa

Bertemu Allah yang Maha Kuasa

Membawa berkah bagi dunia dan Semesta

Tiang Agama yang tak Boleh Roboh

Karya: Anonim

Menjalankan rutinitas dalam nafas yang ikhlas

Nyatanya, dapat menghidupkan hati yang mati

Juga menuntun kita berjalan lurus agar tak terbawa arus

Waras atau pincang bukan persoalan

Karena sakit atau sehat hati tetap butuh makan

Agar kita tidak seperti setan

Entah itu kewajiban atau kebutuhan yang jelas itu perintahtuhan

Yang harus kita jalankan

Malam-malam Rajabiah

Karya: Syaiful Alim Darwis

Ku membilang penanggalan hijriah

Tibalah telunjuk pada malam isra

Sebuah perjalanan jazirah yang tak biasa

Seutas penanda pun juga mukjizat

Kisah isra selalu saja membuat takjub

Seketika pula membuat takluk

Tengadah pada Sang Penguasa perjalanan

Pada malam-malam Rajabiah

Bermakrifatlah mereka yang membaca penanda

Mengimani isra tanpa sedikit pun tergamak

Seraya mengokohkan rajahnya

Agar tetap tegak kepada Tuhannya