Tuesday, October 24, 2017
   
Text Size

Tips Aman dari Bujuk Rayu Aliran Sesat NII & Turunannya

Oleh Muhbib Abdul Wahab
FITK Online - Belakangan ini publik dihebohkan lagi oleh sejumlah warga masyarakat, termasuk mahasiswa, yang hilang (dari peredaran) lalu ditemukan dalam kondisi tidak sadarkan diri, linglung, lesu, dan –yang lebih gawat lagi—sudah tercuci otaknya. Bukan hanya dicuci otaknya, tidak sedikit dari mereka justeru menjadi korban penipuan, pemerasan, dan indoktrinasi ideologi tertentu.

Dalam pemberitaan berbagai media massa, baik cetak maupun elektronik, para korban (yang kemudian sadar dan kembali ke jalan yang benar) telah dibujuk, dirayu, diajak berdiskusi, diindoktrinasi, dicuci otaknya dengan para penyesat atas nama NII (Negara Islam Indonesia) Yang pasti, aktivitas dan gerakan “bawah tanah” NII ini sesat, menyesatkan, dan ujung-ujungnya pemerasan dan penipuan atas nama ideologi atau agama (yang diyakininya paling benar, sementara yang lain dianggap salah dan kafir, termasuk orang tua)

Berikut ini tips aman dari bujuk rayu sesat (NII dan Turunannya):

 

  • Kenali dengan baik teman Anda (teman kuliah, teman di organisasi, dan teman lain). Jika ada teman yang baru Anda kenal, waspai gerak-geriknya. Jangan mudah percaya kepadanya, terutama jika yang bersangkutan sudah mulai mengajak berdiskusi tentang “Ajaran Islam atau Negara Islam”.
  • Kenali karakteristik dan kecenderungan gerakan NII dengan cermat. Di antaranya adalah sebagai berikut:
  1. Setelah ngobrol kesana kemari, calon “korban” biasanya diajak ke suatu tempat untuk berdiskusi (dicuci otaknya). Dalam perjalanan menuju tempat yang dikehendaki itu, mata calon korban ditutup rapat, dan baru akan dibuka ketika mereka sampai di tempat tujuan.  (Ingat:  kalau memang ajarannya benar, pasti terbuka dan tidak sembunyi-sembunyi!)
  2. Mayoritas calon korban yang akan menjadi sasaran indoktrinasi  dipilih (dicari) dari kalangan mahasiswa yang “diperkirakan” tidak memiliki ilmu keislaman yang kuat, bahkan cenderung mahasiswa umum (jurusan Eksakta, MIPA, dan lainnya). Mereka ini pasti lebih mudah disetir dan dicuci otaknya dibandingkan dengan mahasiswa yang memiliki pemahaman agama yang kuat.
  3. Sasaran korban juga cenderung dipilih orang-orang yang relatif kaya (berduit), atau calon korban yang orang tuanya mapan secara ekonomi, namun pemahaman agamanya kurang, sehingga jika korban terpedaya, ia  dapat dijadikan sebagai sumber pemerasan dengan dalih Islam, terutama untuk infaq perjuangan dan hijrah dari Darul Kufri (NKRI) menuju Darul Islam (NII).
  4. Dalam rekrutmen calon korban, pola dakwah –lebih tepat: bujuk rayu— yang mereka terapkan cenderung indoktriner, pemaksaan ideologi, dan penyesetan akidah, meskipun dilakukan dengan bahasa yang santun dan halus. sebenarnya setelah itu, sang calon dimasukkan ke dalam keanggotaan mereka. Pada hari terakhir “bujuk rayu” yang dikemas dengan diskusi itu, calon korban dipaksa dengan dijejali ayat-ayat yang mereka terjemahkan atau tafsirkan seenaknya hingga sang calon mengatakan siap DIBAI’AT, siap BERHIJRAH dari Darul kufri menuju Darul Islam, dan siap berinfaq demi NII.
  5. Ketika akan dibai'at, calon korban harus menyerahkan uang yang mereka namakan dengan uang penyucian jiwa, karena ketika masih berada di NKRI, calon dianggap masih berlumuran “darah kemaksiatan dan akidahnya tidak benar” menurut mereka. Biasanya,  uang yang harus diberikan sebesar Rp 250.000 ke atas. Jika sang calon tidak mampu saat itu, maka infaq itu menjadi hutang g calon dan wajib dibayar di kemudian hari (bila sudah mampu).
  • Perhatikan dan cermati cara bicara dan diskusi mereka. Pastikan bahwa jika mereka membujuk rayu Anda untuk mau dibaiat dan membayar sejumlah uang dengan alasan tersebut di atas, dan Anda tetap sadar (tidak merasa dihipnotis) –karena di antara teknik mereka mempengaruhi calon korban adalah hypnosis— maka usahakan Anda bisa mengontak orang tua atau teman dekat Anda yang dapat dipercaya. Jika memungkinkan, minta tolonglah kepada teman Anda untuk melaporkan kasus semacam ini ke polisi atau aparat keamanan setempat.
  • Amati dan kritisi juga pemikiran dan amal ibadah mereka. Di antara yang menonjol dari pemikiran mereka adalah sebagai berikut:
  1. Mereka tidak mewajibkan shalat lima waktu bagi para anggotanya dengan alasan belum  futuh (pembebasan kota Mekkah setelah ditinggal hijrah). Padahal, mereka mengaku telah berada dalam Madinah. Seandainya mereka tahu bahwa selama di Madinah   Rasulullah Saw.  justru benar-benar menerapkan syari'at Islam, termasuk shalat.
  2. Shalat lima waktu mereka ibaratkan dengan doa dan dakwah. Karena itu, jika mereka sedang berdakwah, maka saat itulah mereka anggap sedang mendirikan shalat.
  3. Shalat Jum'at diibaratkan dengan rapat/syuro. Karena itu, pada saat mereka rapat, maka saat itu pula mereka anggap sedang mendirikan shalat Jum'at.
  4. Untuk pemula (korban yang dianggap baru insaf dari NKRI), mereka diperbolehkan shalat yang dilaksanakan dalam satu waktu untuk lima waktu shalat.
  5. Mereka cenderung memaksakan infaq per periode (per bulan) sehingga anggota yang sudah dibaiat wajib membayarnya. Jika belum mampu membayar, itu hutang yang wajib dibayar.
  6. Adanya  qiradh  (uang yang dikeluarkan untuk dijadikan modal usaha) yang diwajibkan walaupun anggota tidak memiliki uang, bila perlu berhutang kepada kelompoknya. Pembagian bagi hasil  dari  qiradh yang mereka janjikan takkunjung datang. Jika diminta tentang pembagian hasil bagi itu, mereka menjawabnya dengan ayat Al Qur'an sedemikian rupa sehingga upaya meminta bagi  hasil itu menjadi hilang.
  7. Zakat yang mereka minta tidak sesuai dengan syari'at Islam.  Besaran yang harus dibayarkan zakatnya (biasanya termasuk zakat harta milik orang tuanya karena selama ini zakatnya dianggap tidak sah) terlalu melebihi dari yang semestinya. Mereka menyejajarkan calon korban dengan sahabat Abu Bakar dengan pernah membayar zakat melebihi batas nishab karena kesetiannya kepada Islam.
  8. Tidak adanya mustahik di kalangan mereka, sehingga bagi mereka yang takmampu makan sekalipun, wajib membayar zakat/infaq yang besarnya sebanding dengan dana untuk makan sebulan. Bahkan, mereka masih saja memaksa pengikutnya untuk mengeluarkan 'infaq', padahal, pengikutnya itu dalam keadaan kelaparan.  Ini betul-betul pemerasan atas nama agama!
  9. Mereka menganggap syari'at Islam belum berlaku di kalangan mereka sehingga perbuatan apapun tidak mendapatkan hukuman. Pokoknya, menurut mereka, semua serba halal. Untuk mencapai tujuan, mereka menghalalkan segala cara: menipu, berbohong, mencuri, merampok, dan sebagainya. Na’udzu billahi min dzalik!
  10. Mereka selalu mengkafirkan orang yang berada di luar kelompoknya, termasuk orang tua korban, bahkan menganggap halal mencuri harta orang lain dan berzina dengan orang di luar kelompoknya.
  • Kata kunci dari semua itu adalah: waspada, jaga diri, dan bentengi diri Anda dengan iman, ilmu, dan amal shalih yang istiqamah.
  • Usahakan selalu berdoa kepada Allah Swt dan memohon doa & restu dari orang tua Anda dalam setiap kali pergi dari rumah agar dijauhkan dari pergaulan yang sesat dan menyesatkan.
  • Jika Anda mengenali teman (orang baru) yang menurut informasi dari teman yang lain bahwa “orang baru” itu berprofesi sebagai “penipu  atas nama NII” laporkan kepada pimpinan fakultas dan aparat keamanan.
  • Pastikan Anda tidak termasuk mahasiswa yang suka “melamun”, “drop baterai iman, ilmu, dan amal shalih” dengan senantiasa mendekatkan diri kepada Allah Swt melalui taat beribadah wajib dan sunnah.

Selamat menjauhi aksi-aksi penipuan, pemerasan, dan penggelapan uang Anda atas nama NII, sebab NII itu sesat dan menyesatkan!
Salam sukses selalu!
Jakarta, 20 April 2011

 

Headline

Stadium General

 

Tips Menarik

Tips Menjadi Guru Hebat (The Great Teacher) dan Mulia

 

Tips Menjadi Guru Hebat (The Great Teacher) dan Mulia

Diadaptasi & Dielaborasi dari Prof. Mary Gallaghar (University of Canbera Australia)

Oleh Muhbib Abdul Wahab

Jangan tanggung-tanggung jika Anda menjadi guru. Jadilah guru yang hebat dan teladan. Guru hebat ditandai dengan 5 indikator: (1) kualitas diri, (2) integritas moral, (3) kedalaman ilmu, (4) keterampilan (terutama mendayagunakan metode dan media), dan (5) komitmen (adanya panggilan jiwa dan penuh tanggung jawab). Profesi guru itu sangat mulia dan menentukan masa depan bangsa, bahkan turut mempengaruhi seseorang kelak masuk surga atau neraka!!

Menjadi guru hebat menuntut keahlian dan keterampilan tersendiri, karena guru hebat harus menjadi komunikator, motivator, inspirator, dan pembangun kepribadian dan karakter siswa/mahasiswa. Guru hebat harus mau dan mampu melakukan, minimal 6 hal:

1. Memiliki keinginan untuk mengenal, menyentuh hati siswa serta melibatkannya dalam proses pembelajaran. Ketika berkomunikasi dengan mereka , guru harus bisa melakukan kontak mata sekaligus kontak hati. Semakin mengenal jati diri siswanya, guru seharusnya semakin arif dan bisa mendekati serta membangun kerjasama yang saling menguntungkan.

2. Mengomunikasikan tujuan dan harapan secara eksplisit. Ketika mengawali proses pembelajaran di dalam kelas, idealnya guru dapat meyakinkan mereka bahwa tujuan dan harapan yang hendak dicapai pada jam pelajaran ini penting dan baik.

3. Menyiapkan dan menjadikan bahan ajar menarik, menantang, dan merangsang (menstimulir).

4. Mendorong siswa/mahasiswa berpikir kritis dan kreatif, dan memberanikan mereka menerapkan pengatahuan yang sudah dipahaminya secara praktis. Guru bahasa Arab misalnya harus mampu member contoh berbicara dalam bahasa Arab secara baik berikut membisakan dan membiasakan mereka berbahasa Arab.

5. Melakukan kontekstualisasi dengan dunia nyata. Materi yang diajarkan seoptimalkan mungkin dikaitkan dengan perkembangan sosial, budaya, ilmu, pendidikan dan sebagainya, sehingga menjadi lebih menarik dan dinamis.

6. Masuki “dunia siswa/mahasiswa, dan jangan paksakan dunia guru dimasukkan dalam dunia mereka.” Senada dengan itu, Imam Ali bin Abi Thalib menyatakan: “Didiklah anak-anak sesuai dengan konteks zaman mereka, karena mereka akan hidup di zaman yang berbeda dengan zaman kalian.”

Ada sejumlah langkah menuju guru hebat:

1. Menunjukkan model pembelajaran yang hebat (guru sebagai model teladan)

2. Membelajarkan bagaimana (cara) belajar yang efektif bagi siswa/mahasiswa

3. Beristiqamah dengan prinsip: “Latihan dan praktik yang intensif membuat siswa/mahasiswa semakin belajar, memahami pelajaran dan terampil.” Proses pembelajaran kita seringkali kering dari latihan, praktik, dan aplikasi nyata dari teori yang telah dikatahui.

4. Berani, peduli, dan menjalin hubungan atau komunikasi yang intens dan positif dengan siswa/mahasiswa.

5. Meyakini dan mempraktikkan ekspektasi (harapan) yang tinggi. Guru yang hebat harus berpikir positif, optimis, dinamis, dan futuristik.

6. Mendorong kesadaran diri dan tanggung jawab secara moral dan professional. Guru hebat bukan semata-mata mengemban tanggun jawab profesinya, tetapi juga akan dimintai pertanggungjawaban secara moral di hadapan umat dan Tuhan.

Guru hebat adalah guru yang memiliki karakter sebagai berikut:

1. Menstimuli (mendorong) dan memberikan tantangan kepada siswa/mahasiswanya ke arah prestasi yang lebih tinggi dan menuju kemajuan masa depan yang lebih prospektif.

2. Menyatakan standar kompetensi dan target-target ekspetatif kepada mereka.

3. Mempartisipasikan mereka dalam perencanaan, proses dan program pembelajaran secara konstruktif dan produktif.

4. Menggunakan metode dan media yang efektif, kontekstual dengan tujuan, materi, perkembangan peserta didik, dan kondisi yang ada.

5. Memberikan umpan bali (feedback) yang konstruktif. Guru hebat tidak semata-mata memberi tugas kepada siswa/mahasiswanya, tetapi juga harus member respon, koreksi, revisi, pengayaan materi, dan inovasi-inovasi lainnya.

 

Pada akhirnya guru hebat harus menyontoh Rasulullah Saw. dalam mendidik para sahabatnya. Beliau menyatukan antara kata dan tindakan nyata. Beliau memahami dan berbicara sesuai dengan tingkat kemampuan para sahabatnya: memotivasi bukan mengintimidasi, mempermudah bukan mempersulit, menyederhanakan bukan merumitkan. Terkadang beliau mendidik dengan contoh, dengan dialog, dengan kisah, dengan sejarah, dan aneka pendekatan lainnya. Guru kemanusiaan terhebat seperti Nabi SAW selalu berkomitmen untuk membisakan dan membiasakan siswa/mahasiswanya berbudi pekerti, berperilaku santun dan terhormat.

Guru hebat seperti kanjeng Nabi Saw adalah guru yang bisa memanusiakan manusia yang berkarakter dan berakhlak mulia, berbudi pekerti luhur, dan berkepribadian unggul dan bermartabat. Guru yang hebat dan mulia adalah guru selalu mau belajar, meningkatkan kualitas diri dan performanya, sehingga dapat memberi layanan edukasi yang terbaik dan mencerdaskan.

 

Salam sukses dari Pembantu Dekan Bidang Kemahasiswaan FITK UIN Jakarta

Rabu, 14 Maret 2012