Sunday, October 22, 2017
   
Text Size

TIPS Sukses PIQI

Oleh Muhbib Abdul Wahab
FITK Online - Kamis, 7 April lalu, Laboratorium FITK mengadakan rapat koordinasi antara dosen pembimbing PIQI (Praktikum Ibadah dan Qira’ah) dan praktikan (mahasiswa semester II). Dalam forum itu, saya diminta moderator  Sdr. Tanenji Sagma, Sekretaris Lab., untuk memberikan kiat-kiat mengahafal al-Qur’an.  Saya melihat bahwa kegiatan yang juga dihadiri oleh Dekan FITK, Prof. Dr. Dede Rosyada, MA. dan Pembantu Dekan Bidang Akademik, Nurlena Rifa’i, Ph.D, ini menjadi momentum yang sangat penting dan berharga, terutama bagi praktikan.

Oleh karena pengalaman tahun lalu menunjukkan bahwa tidak sedikit praktikan yang gagal dalam menyelesaikan PIQI, maka berikut ini saya sampaikan beberapa tips sukses ber-PIQI.

  1. Niati (komitmeni) dengan kuat dan ikhlas bahwa PIQI ini bagian dari ibadah.
  2. Baca, pahami, dan pedomani buku panduan yang telah diterbitkan oleh Lab. FITK.
  3. Lakukan komunikasi dan koordinasi dengan dosen pembimbing Anda. Karena itu, Anda wajib mempunyai nomor kontak pembimbing  Anda.
  4. Agendakan bersama dengan pembimbing  waktu dan tempat praktikum yang dapat disepakati bersama.
  5. Targetkan PIQI dapat diselesaikan secara tuntas  secepat mungkin, karena hal ini dapat mengurangi beban tugas Anda, meskipun rentang waktu bimbingan Anda dijatah hingga 31 Desember 2011.
  6. Miliki mushhaf  al-Qur’an standar, sebaiknya mushhaf yang ada terjemahannya ke dalam bahasa Indonesia atau Inggris.
  7. Pilih dan tentukan waktu yang menurut Anda sangat cocok untuk menghafal surat-surat yang menjadi tagihan dalam PIQI. Menurut saya, waktu yang sangat baik dan efektif (berkesan) adalah menjelang dan sesudah subuh. Jadi, biasakan dan disiplinkan diri untuk bangun tidur lebih awal. Ingat sabda Nabi Saw.: “Umatku yang bangun pagi itu selalu diberkahi”. (HR. at-Thabarani). Lebih bagus lagi, jika sebelum subuh Anda masih bisa menyempatkan shalat tahajjud, dan setelah itu berdoa kepada Allah, terutama untuk memperoleh kemudahan dan kelancaraan dalam menghafal al-Qur’an. Saya yakin, amalan seperti itu pasti diijabahi oleh Allah Swt.
  8. Usahakan ayat dan surat yang sedang dihafal dibaca berulang-ulang, terutama dalam shalat.
  9. Jika masih belum bisa hafal dengan sempurna, baca kembali ayat dan surat itu sambil melihat dan merenungi artinya dalam bahasa Indonesia atau  Inggris, lalu baca kembali dalam shalat, pasti hafalan itu makin melekat, dan insya Allah akan tersimpan dalam long term memory Anda. Bukankah Anda hafal surat “yahoo” (baca: ya-hu, alias qul ya ayyuhal kafirun dan qul huwa Allahu ahad) itu karena sedemikian intens Anda membaca dan mengulanginya? Jangan pernah bosan membaca al-Qur’an karena dia adalah bacaan paling sempurna dan merupakan ma’dubat Allah (jamuan super special dari Allah).
  10. Jika Anda sudah menyelesaikan tagihan hafal Juz ‘Amma (juz ke-30) dan 5  surat pilihan lainnya, usahakan Anda masih tetap setiap menjaga hafalan itu dengan menggunakannya untuk bacaan shalat atau bacaan dalam khutbah Jum’at atau lainnya.
  11. Pada saat setor hafalan, usahakanlah Anda datang menghadap dosen pembimbing berdua, bertiga atau berempat, supaya Anda bisa saling menyimak sekaligus meneguhkan hafalan Anda.
  12. Jika memungkinkan, selama praktikum Anda juga bisa “bermitra hafalan” dengan teman sebaya atau guru/ustadz/ustadzah Anda, karena cara ini pasti dapat lebih mempercepat peneguhan memori Anda.
  13. Setelah merampungkan praktikum qira’ah, konsentrasikan diri Anda untuk mengikuti dengan tekun praktikum ibadah. Pelajari bahan-bahan atau materi-materi praktikum ibadah ini dari buku fiqh yang standar.
  14. Kuasai, pahami, dan praktikkan tata cara (kaifiyyat) ibadah yang menjadi tagihan Anda. Ada baiknya Anda juga mengetahui dan menghafal ragam bacaan, misalnya do’a iftitah dan lainnya, sehingga Anda tidak merasa “kaget” jika mendapati bacaaan yang versinya berbeda dengan bacaan yang selama ini menjadi kebiasaan Anda. Fiqh Islam itu luas dan luwes.
  15. Persiapkan diri Anda juga untuk berlatih menjadi khatib atau penceramah dalam forum tertentu  (khutbah Jum’at, ‘idain, dan lainnya).
  16. Persiapkan juga media praktikum ibadah yang diperlukan, misalnya boneka, kain kafan, dan lainnya agar pada saat digunakan Anda benar-benar sudah siap sedia.
  17. Lakukan semua itu dengan niat ibadah sekaligus meningkatkan kualitas  iman, ilmu amaliah dan amal ilmiah. Saya yakin melalui PIQI Anda mendapat dua hal sekaligus, yaitu: pahala ukhrawi dan ilmu+nilai duniawi. Ikhlas,  disiplin, tekun, sabar, dan doa merupakan kata kunci kesuksesan Anda dalam ber-PIQI.

Demikian saja, semoga bermanfaat. Salam sukses selalu bagi Anda mahasiswa kebanggaan kami.
Jakarta, 11 April 2011

Headline

Pertemuan Asosiasi Dosen Biologi dan Pendidikan Biologi PTKI se-Indonesia dan Workshop KKNI

 

Tips Menarik

Tips Menjadi Guru Hebat (The Great Teacher) dan Mulia

 

Tips Menjadi Guru Hebat (The Great Teacher) dan Mulia

Diadaptasi & Dielaborasi dari Prof. Mary Gallaghar (University of Canbera Australia)

Oleh Muhbib Abdul Wahab

Jangan tanggung-tanggung jika Anda menjadi guru. Jadilah guru yang hebat dan teladan. Guru hebat ditandai dengan 5 indikator: (1) kualitas diri, (2) integritas moral, (3) kedalaman ilmu, (4) keterampilan (terutama mendayagunakan metode dan media), dan (5) komitmen (adanya panggilan jiwa dan penuh tanggung jawab). Profesi guru itu sangat mulia dan menentukan masa depan bangsa, bahkan turut mempengaruhi seseorang kelak masuk surga atau neraka!!

Menjadi guru hebat menuntut keahlian dan keterampilan tersendiri, karena guru hebat harus menjadi komunikator, motivator, inspirator, dan pembangun kepribadian dan karakter siswa/mahasiswa. Guru hebat harus mau dan mampu melakukan, minimal 6 hal:

1. Memiliki keinginan untuk mengenal, menyentuh hati siswa serta melibatkannya dalam proses pembelajaran. Ketika berkomunikasi dengan mereka , guru harus bisa melakukan kontak mata sekaligus kontak hati. Semakin mengenal jati diri siswanya, guru seharusnya semakin arif dan bisa mendekati serta membangun kerjasama yang saling menguntungkan.

2. Mengomunikasikan tujuan dan harapan secara eksplisit. Ketika mengawali proses pembelajaran di dalam kelas, idealnya guru dapat meyakinkan mereka bahwa tujuan dan harapan yang hendak dicapai pada jam pelajaran ini penting dan baik.

3. Menyiapkan dan menjadikan bahan ajar menarik, menantang, dan merangsang (menstimulir).

4. Mendorong siswa/mahasiswa berpikir kritis dan kreatif, dan memberanikan mereka menerapkan pengatahuan yang sudah dipahaminya secara praktis. Guru bahasa Arab misalnya harus mampu member contoh berbicara dalam bahasa Arab secara baik berikut membisakan dan membiasakan mereka berbahasa Arab.

5. Melakukan kontekstualisasi dengan dunia nyata. Materi yang diajarkan seoptimalkan mungkin dikaitkan dengan perkembangan sosial, budaya, ilmu, pendidikan dan sebagainya, sehingga menjadi lebih menarik dan dinamis.

6. Masuki “dunia siswa/mahasiswa, dan jangan paksakan dunia guru dimasukkan dalam dunia mereka.” Senada dengan itu, Imam Ali bin Abi Thalib menyatakan: “Didiklah anak-anak sesuai dengan konteks zaman mereka, karena mereka akan hidup di zaman yang berbeda dengan zaman kalian.”

Ada sejumlah langkah menuju guru hebat:

1. Menunjukkan model pembelajaran yang hebat (guru sebagai model teladan)

2. Membelajarkan bagaimana (cara) belajar yang efektif bagi siswa/mahasiswa

3. Beristiqamah dengan prinsip: “Latihan dan praktik yang intensif membuat siswa/mahasiswa semakin belajar, memahami pelajaran dan terampil.” Proses pembelajaran kita seringkali kering dari latihan, praktik, dan aplikasi nyata dari teori yang telah dikatahui.

4. Berani, peduli, dan menjalin hubungan atau komunikasi yang intens dan positif dengan siswa/mahasiswa.

5. Meyakini dan mempraktikkan ekspektasi (harapan) yang tinggi. Guru yang hebat harus berpikir positif, optimis, dinamis, dan futuristik.

6. Mendorong kesadaran diri dan tanggung jawab secara moral dan professional. Guru hebat bukan semata-mata mengemban tanggun jawab profesinya, tetapi juga akan dimintai pertanggungjawaban secara moral di hadapan umat dan Tuhan.

Guru hebat adalah guru yang memiliki karakter sebagai berikut:

1. Menstimuli (mendorong) dan memberikan tantangan kepada siswa/mahasiswanya ke arah prestasi yang lebih tinggi dan menuju kemajuan masa depan yang lebih prospektif.

2. Menyatakan standar kompetensi dan target-target ekspetatif kepada mereka.

3. Mempartisipasikan mereka dalam perencanaan, proses dan program pembelajaran secara konstruktif dan produktif.

4. Menggunakan metode dan media yang efektif, kontekstual dengan tujuan, materi, perkembangan peserta didik, dan kondisi yang ada.

5. Memberikan umpan bali (feedback) yang konstruktif. Guru hebat tidak semata-mata memberi tugas kepada siswa/mahasiswanya, tetapi juga harus member respon, koreksi, revisi, pengayaan materi, dan inovasi-inovasi lainnya.

 

Pada akhirnya guru hebat harus menyontoh Rasulullah Saw. dalam mendidik para sahabatnya. Beliau menyatukan antara kata dan tindakan nyata. Beliau memahami dan berbicara sesuai dengan tingkat kemampuan para sahabatnya: memotivasi bukan mengintimidasi, mempermudah bukan mempersulit, menyederhanakan bukan merumitkan. Terkadang beliau mendidik dengan contoh, dengan dialog, dengan kisah, dengan sejarah, dan aneka pendekatan lainnya. Guru kemanusiaan terhebat seperti Nabi SAW selalu berkomitmen untuk membisakan dan membiasakan siswa/mahasiswanya berbudi pekerti, berperilaku santun dan terhormat.

Guru hebat seperti kanjeng Nabi Saw adalah guru yang bisa memanusiakan manusia yang berkarakter dan berakhlak mulia, berbudi pekerti luhur, dan berkepribadian unggul dan bermartabat. Guru yang hebat dan mulia adalah guru selalu mau belajar, meningkatkan kualitas diri dan performanya, sehingga dapat memberi layanan edukasi yang terbaik dan mencerdaskan.

 

Salam sukses dari Pembantu Dekan Bidang Kemahasiswaan FITK UIN Jakarta

Rabu, 14 Maret 2012